Surjan: Kearifan lokal yang jadi Andalan Ketahanan Pangan
Sistem tanam surjan adalah cara cerdas petani mengolah lahan agar tetap produktif sepanjang tahun. Sistem tanam surjan memang lahir dari kearifan lokal petani di lahan rawa pasang surut (seperti di Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi). Tujuan utamanya untuk mengatasi fluktuasi air: sebagian lahan selalu tergenang, sebagian lainnya kering.
Namun, prinsipnya tidak terbatas hanya untuk rawa. Ide dasarnya adalah membuat perbedaan ketinggian lahan agar bisa ditanami tanaman yang berbeda sesuai kebutuhan airnya, sehingga pola serupa sebenarnya bisa diterapkan di:
• Lahan sawah rawan genangan → dibuat guludan tinggi untuk palawija, dan petakan basah untuk padi.
• Lahan tadah hujan → guludan bisa membantu drainase, sementara cekungan menyimpan air.
• Agroforestri → guludan ditanami pohon/tanaman tahunan, cekungan untuk sayur atau padi.
Jadi, walau surjan berkembang khusus di ekosistem rawa, prinsipnya bisa diadaptasi untuk lahan lain yang bermasalah dengan kelebihan atau kekurangan air.
Jenis tanaman yang dibudidayakan pada sistem surjan:
- Sayuran, cabai, jagung, atau tanaman buah yang tidak tahan genangan bedengan yang lebih tinggi
- Padi atau tanaman yang senang dengan air bagian cekungan yang tergenang
Keuntungan:
1. Satu hamparan lahan petani bisa panen dua macam tanaman sekaligus (ada hasil dari lahan kering, ada juga hasil dari lahan basah)
2. Mengurangi risiko gagal panen karena kondisi air yang sulit diprediksi.
3. Hasil panen lebih beragam sehingga pendapatan pun lebih stabil.
Dapat dikatakan bahwa tanam surjan adalah bukti kearifan lokal petani Indonesia dalam mengolah alam. Dengan sedikit inovasi, sistem ini bahkan semakin cocok dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan di masa depan.